Where is everybody??
‘Gubrrakk!’ suara buku terjatuh dari pegangan tanganku, aku sangat takpercaya dengan apa yang ku lihat saat ini, Farried pacarku sedang bermesraan dengan Kayla yang tak lain adalah sahabat karibku sejak di sekolah dasar, sungguh biadab!
Dadaku terasa sesak, mataku panas seperti dibakar dengan api membara dalam tubuhku, dan jantungku berdegup kencang seperti sesorang tengah memukul drum perang. Aku berlari sekuat tenaga menuju Toilet untuk menangis, tiba- tiba dijalan seseorang meraih tanganku “Lus! Please gue bisa jelasin! Gue bisa jelasin kejadian tadi, ini gak seperti yang loe liat!” ucap Farried “Cukup Rid! Loe pikir mata gue buta apa? Ha?! Kejadian tadi tuh udah cukuo bagi gue! Ternyata loe tuh gak lebih dari seorang penghianat!” bantah ku sambil meneruskan perjalananku “Please! Lucy! Listen to me! Gue sama Kayla itu gak ada hubungan apa- apa” ucap Farried dengan muka mulai memelas “Shut up your mouth!” ucapku tak ingin mendengar kebohongannya.
Brrak! Aku
menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras lalu bersender di balik pintu itu. “Rid? Gue cinta
banget sama loe! Loe anggep apa hubungan kita yang hampir 5 tahun ini? Loe anggep apa keikhlasan gue ngasih ciuman
pertama gue ke loe? Salah gue apa Rid?” gumanku sendirian sambil mengusap
mukaku, air mataku semakin deras mengalir. Bagaikan dunia ikut menangis
bersamaku, tiba- tiba turun hujan dengan langit yang sangat gelap, segelap
hatiku.
“Tolong dengerin gue bei” ucap seseorang di balik pintu menghancurkan lamunanku “jangan panggil gue dengan sebutan bei, menjijikan!” ucapku sambil mendecakan lidah “ok! Sekarang mau loe gimana?” tanya Farried, aku mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dan bicara “Gue mau kita putus” ucapku “tapi besok kita anniversery!?” tanya Farried “apa gunanya hal itu?” ucapku balik bertanya. Tak ada jawaban apapun dari Farried, hanya teriakan yang mengambarkan kesedihan dan penyesalan lah yang terdengar dari kejauhan.
“Tolong dengerin gue bei” ucap seseorang di balik pintu menghancurkan lamunanku “jangan panggil gue dengan sebutan bei, menjijikan!” ucapku sambil mendecakan lidah “ok! Sekarang mau loe gimana?” tanya Farried, aku mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dan bicara “Gue mau kita putus” ucapku “tapi besok kita anniversery!?” tanya Farried “apa gunanya hal itu?” ucapku balik bertanya. Tak ada jawaban apapun dari Farried, hanya teriakan yang mengambarkan kesedihan dan penyesalan lah yang terdengar dari kejauhan.
Aku berjalan
menyusuri jalan setapak kompleku ditemani dengan rintik- rintik hujan yang
membasahi tubuhku.
sesampainya dirumah, seperti biasa aku disambut dengan kegelapan dan kesunyian rumah. Hal ini sudah menjadi pemandanganku setiap hari, ayah dan ibu ku sedang berkerja, sementara kakak laki- lakiku sedang berlibur di jogja dengan teman- teman kampusnya dan akan pulang satu minggu lagi. Aku menaiki tangga rumahku dengan langkah kaki gemetar. Sesampainya dikamar, aku bergegas mandi, setelah itu aku merebahkan tubuhku di ranjang dan memejamkan mata lalu membukanya kembali, berharap ini hanyalah mimpi. Entah kenapa ranjang yang biasanya terasa hangat dan nyaman kini terasa dingin dan keras.
sesampainya dirumah, seperti biasa aku disambut dengan kegelapan dan kesunyian rumah. Hal ini sudah menjadi pemandanganku setiap hari, ayah dan ibu ku sedang berkerja, sementara kakak laki- lakiku sedang berlibur di jogja dengan teman- teman kampusnya dan akan pulang satu minggu lagi. Aku menaiki tangga rumahku dengan langkah kaki gemetar. Sesampainya dikamar, aku bergegas mandi, setelah itu aku merebahkan tubuhku di ranjang dan memejamkan mata lalu membukanya kembali, berharap ini hanyalah mimpi. Entah kenapa ranjang yang biasanya terasa hangat dan nyaman kini terasa dingin dan keras.
Aku
mengambil album fotoku yang bertuliskan ‘Sweeties love’. Aku membuka lembaran
pertama dimana hari pertama aku dan Farried berpacaran tanggal 1 januari 2008,
lalu halaman- halaman berikutnya yang berisikan foto anniversaryku bersama
Farried selama 4 tahun, dan besok adalah perayaan yang kelima, namun sayang
semua itu telah sirna, tidak ada lagi
perayaan 1 januari dalam hidupku. Aku menutup album itu dan menangis
‘Cinta pertamaku, ciuman pertamaku
adalah kamu.. cahaya ku, adalah kamu.. kamu memberikan sejuta kenangan indah di
hidupku, dengan mudah kau ambil hatiku dan mengukir namamu Mohammed Farried
Henrawan, kau hias namamu setiap harinya dengan pernak pernik yang indah, kau siram
namamu dengan air cintamu agar tidak layu. Seribu kata cinta dan sayang
menghiasi hidupku selama 4 tahun beturut- turut.
namun kini kau hanyalah cinta terakhirku, ciuman yang sangat kusesalkanku beri padamuk .. dirimu kini bagai kabut hitam tebal yang memenuhi ruang hatiku, memberikan kegundahan dan kesedihan hidupku, kau cabut hatiku tanpa menghapus namamu dan membuangnya di kobaran api amarah tak akan ada lagi 1 januari dalam hidupku’ gumanku.
namun kini kau hanyalah cinta terakhirku, ciuman yang sangat kusesalkanku beri padamuk .. dirimu kini bagai kabut hitam tebal yang memenuhi ruang hatiku, memberikan kegundahan dan kesedihan hidupku, kau cabut hatiku tanpa menghapus namamu dan membuangnya di kobaran api amarah tak akan ada lagi 1 januari dalam hidupku’ gumanku.
Hari- hariku
ku habiskan dengan mengikuti segala kegiatan agar kudapat melupakan cintaku,
dari kelas beladiri, pelajaran dan seni hampir semua ku ikuti. Meja riasku kini
depenuhi dengan obat- obat penenang depressi.
Dua hari
berlalu..
belum sembuh hatiku akibat Farried, kini malah ditambah dengan perceraian orang tua ku. Aku benar- benar terpukul, tapi aku tetap berusaha tersenyum di depan orang- orang.
belum sembuh hatiku akibat Farried, kini malah ditambah dengan perceraian orang tua ku. Aku benar- benar terpukul, tapi aku tetap berusaha tersenyum di depan orang- orang.
Lima hari
kemudian..
aku mendapat surat dari petugas INA air plane bahwa kakak laki- laki ku ‘Rudy noor mohammed’ meninggal dunia akibat kecelakaan.
aku benar- benar terpukul, seakan- akan semua orang ingin meninggalkanku. Aku sudah tidak kuat lagi menahan batu besar yang setiap saat terus menghujam tubuhku yang rapuh. Aku mengambil Pistol dari laci ayahku, lalu aku berlari kebalkon dan menembakan kepalaku dengan pistol dengan menangis, darah terus mengalir dari kepalaku. Aku terjatuh di lantai balkon yang kotor itu, aku melihat kegelapan yang semakin mendekat seakan menyapaku. Kulihat kakakku dengan pakaian rapi mengajakku untuk pergi, aku mengikutinya dengan senang.
aku mendapat surat dari petugas INA air plane bahwa kakak laki- laki ku ‘Rudy noor mohammed’ meninggal dunia akibat kecelakaan.
aku benar- benar terpukul, seakan- akan semua orang ingin meninggalkanku. Aku sudah tidak kuat lagi menahan batu besar yang setiap saat terus menghujam tubuhku yang rapuh. Aku mengambil Pistol dari laci ayahku, lalu aku berlari kebalkon dan menembakan kepalaku dengan pistol dengan menangis, darah terus mengalir dari kepalaku. Aku terjatuh di lantai balkon yang kotor itu, aku melihat kegelapan yang semakin mendekat seakan menyapaku. Kulihat kakakku dengan pakaian rapi mengajakku untuk pergi, aku mengikutinya dengan senang.
‘Tuhan terimakasih kau telah
memberiku kekasih sesungguhnya yaitu, kegelapan dan keabadian yang jauh dari
keributan dan tangisan. Hanya damai yang terasa, seperti diselimuti oleh
selimut yang beku namun tetap terasa hangat, dan terimakasih karena kau
mempertemukanku dengan kekasihku tepat dihari ulang tahunku’
...............................................................~ THE END!
By: Hasna Syakira
ini cerpen yang gue buat sendiri.. bagus gak? comment dong! please :D
sorry kalo masih acak2an :(
BalasHapus